TBM BINTANG

TBM BINTANG
"Belajar Bersama Menggapai Impian"

Apa kabar Anda hari ini ??? Alhamdulillah LUAR BIASA !!

Sabtu, 12 Januari 2013

Cara Perawatan Jenazah

Disampaikan dalam Rapat Angkatan Remaja Lodoyong
pada hari Sabtu,12 Januari 2013 oleh : Muhammad Salim,S.Pd.I.
( Guru PAI SD Ngoro-oro,Patuk,Gunungkidul )

BAB I
PENDAHULUAN

Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan manusia yang lain.Salah satu wujud dari interaksi tersebut adalah ketika ada salah satu anggota masyarakat yang meninggal dunia maka menjadi kewajiban manusia dalam komunitas tersebut untuk merawat jenazah dari sejak kematiannya hingga dimasukkan ke liang kubur.Itulah yang termasuk salah satu fardlu kifayah/kewajiban perwakilan dari sebuah komunitas masyarakat ,yaitu sebuah yaitu sebuah perbuatan yang harus diwujudkan oleh salah seorang anggota masyarakat.Jika telah dikerjakan maka hilanglah tuntutan /kewajiban terhadap manusia lainnya ,tetapi bila tidak ada yang melakukan maka semua manusia dalam suatu komunitas itu berdosa.(Hanafi,1981:22 )
Perawatan jenazah menjadi tanggung jawab bersama,jangan hanya dibebankan kepada pak Rois saja.Ketrampilan merawat jenazah bagi pemuda sangat baik untuk bisa dikuasai mengingat umur yang masih muda relatif masih panjang masa berkhidmat/melayani masyarakat.Pun begitu juga sebaiknya ketrampilan ini dikuasai oleh yang laki-laki maupun yang perempuan karena yang meninggal dunia itu bisa laki-laki dan bisa perempuan.Remaja dan pemuda masih mempunyai waktu,tenaga maupun pemikiran yang lapang mengingat remaja/pemuda belum punya tanggung jawab yang banyak.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Ketika sakit keras,sebelum meninggal dunia.
Ada baiknya sebelum masuk kepada pembahasan utama,kita mengetahui hal-hal yang semestinya dilakukan terhadap orang yang sakit keras yang sangat tipis harapan sembuhnya bahkan sudah sampai sakaratil-maut.Menurut H.Sulaiman Rasyid hal-hal tersebut adalah (Rasyid,2010:161-162):
1. Dihadapkan ke arah kiblat.
2. Dituntun membaca kalimat tauhid :La ilaha iallallah
3. Dibacakan surat Yasin
B. Sedangkan ketika baru saja meninggal dunia maka hal-hal yang harus dilakukan adalah:
1. Memejamkan matanya,menyedekapkan tangannya kemudian mendoakannya semoga husnul-khotimah.
2. Menutup mayat tersebut dengan selembar kain.
3. Keluarganya /ahlinya segera mengabarkan kepada para tetangga sanak kerabat dan saudara-saudaranya.
4. Segera menyelesaikan hutang-hutangnya.
5. Mempercepat penyelenggaraan perawatan jenazah hingga pemakamannya.(Dimhari,2001:29-30)
C. Perawatan jenazah
Adapun Kewajiban manusia terhadap mayat yang baru saja meninggal dunia yaitu perawatan jenazah ada 4 ( Empat ):Memandikan,Mengkafani,Mensholatkan dan Menguburkan.(Rasyid,2010: 164 – 186 ).
1) Memandikan:
a. Persiapan:papan dan tempat permandian,air suci secukupnya,larutan kapur barus,sabun( cair ),shampoo,sarung tangan,lidi pembersih kuku,k ain basahan,kain handuk.
b. Pelaksanaan:
1. .Bujurkan menghadap kiblat dengan kepala sebelah kanan.
2. Lepaskan pakaian maupun perhiasan yang melekat di badan.
3. Menutup aurat sekedarnya.
4. Bersihkan kotoran najisnya,tekan bagian perutnya hingga kotorannya keluar kalau masih ada.
5. Bersihkan rongga mulutnya dari riak-riak yang ada.
6. Bersihkan kuku-kuku dan jari tangannya.
7. Siram anggota wudlu secara urut/tertib,segera,rata hingga 3 kali dimulai dari anggota sebelah kanan.
8. Siram anggota tubuh hingga rata dan dimulai anggota sebelah kanan.
9. Menggosok seluruh tubuh dengan air sabun dan khusus rambut kepala dengan shampoo.
10. Menyiram berulang kali sejumlah ganjil(5,7,9,11) hingga rata dan bersih.
11. Menyiram dengan larutan kapur barus atau bau-bauan cendana dan sebagainya.
12. Mengeringkan tubuh/jasadnya dengan kain handuk.
Khusus mayat wanita disunnahkan rambutnya diikat menjadi 3 pintalan.(Dimhari,2001:30-32)
2) Mengkafani.
a. Persiapan.
Sebaiknya ada petugas yang mempersiapkan kain kafan,memotongnya sesuai kebutuhan dan menghamparkannya di tempat khusus pengkafanan ketika petugas yang lain sedang memandikan.
b. Pelaksanaan:
1. Kain kafan yang telah dipotong sesuai kebutuhan dihamparkan di tempat pengkafanan dan diberi wangi-wangin.
2. Jenazah diletakkan pada kain kafan tersebut dengan hati-hati dan ditutup dengan kain selubung.
3. Memposisikan tubuh mayat dengan benar yaitu tangan disedekapkan dengan tangan kanan di atas tangan kiri,kedua kaki diluruskan dan didempetkan,kalau perlu diikat ujungnya.
4. Tutup 7 lobang yaitu:2 mata,2 telinga,2 hidung,1 pusat/puser dengan bulatan kapas yang ditaburi serbuk kapur barus.
5. Lembaran kapas yeng ditaburi serbuk kapur barus dan cendana ditutupkan /ditempelkan pada wajah,leher kanan kiri,ketiak kanan kiri,lengan siku kanan kiri,bawah dan atas pergelangan,kedua lobang bawah ( qubul dan dubur ),kedua pergelangan kaki,kedua lingkaran perut.
6. Dibungkus dengan kain kafan dan ditalikan agar tidak mudah lepas,disunnahkan 3 lapis kain kafan dan khusus mayat wanita ditambah dengan baju kurung dan kerudung :
Bagi mayat pria tutuplah segitiga kain putih di bagian rambut kepala dengan ikatan pada jidat,katupkan kain penutup dada melalui lobang pada lehernya.
Bagi mayat wanita letakkan 3 pintalan rambut kebawah belakang kepala,tutupkan kain mukena pada rambut kepala,tutupkan belahan kain baju pada dada,lipatkan kain basahan melingkar badan,perut dan auratnya.( Dimhari,2001:33-38)
3) Mensholatkan
a. Persiapan:
Jenazah ditelentangkan membujur menghadap qiblat (utara),disunahkan mayat laki-laki kepala di selatan dan bagi mayat perempuan kepala di utara,jika shalat sendiri atau jadi imam maka posisi berdiri letaknya sejajar dengan leher mayat laki-laki dan sejajar dengan setengah badan (Muhith,1987:10)
Diusahakan berjamaah dan dibuat menjadi 3 shaf dengan shaf perempuan di belakang shaf laki-laki.Misalnya ada 1 imam dan 6 makmum maka formasinya adalah 1,2,2,2 atau misalnya 1 imam dengan 4 makmum maka formasinya 1,2,2.Intinya adalah diusahakan menjadi 3 shaf.(Muhith,1987:13)
b.Pelaksanaan:
1).Niyat shalat mayat.
Jika dilafalkan maka berbunyi:”Ushlli ‘ala hadzal-mayyiti / hadzihil-mayyitati arba’a
Takbiratatin fardlal-kifayati makmuman/imaman lillahi ta’ala “(Aku niyat shalat atas
mayat ini empat takbir fardlu kifayah sebagai makmum/imam karena Allah Ta’ala.
2).Allahu Akbar ( takbir pertama ) kemudian membaca surat Al-Fatihah.
3).Allahu akbar ( Takbir kedua ) ,membaca shalawat :Allahumma shalli ‘ala sayyidina
Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.
4).Allahu akbar ( takbir ketiga ) membaca :Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu
‘anhu……..
5).Allahu akbar (takbir keempat ) membaca :Allahumma la tahrimna ajrahu wala taftinna
ba’dahu wagfirlana walahu.
6).Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.( Muhith,1987:19-29 )
4.Menguburkan
Tahap terakhir dari perawatan jenazah adalah menguburkannya.Ada beberapa sunat yang
Berhubungan dengan penguburan ini yaitu ketika mayat dimasukkan ke liang lahat
Membentangkan kain sebagai penutup liang lahat,:meninggikan tanah diatas liang
Lahat kira-kira sejengkal dari tanah rata tanah dan didatarkan,:menandai kuburan dengan
Kayu atau batu, menarh batu-batu kerikil di atasnya,menaruh pelepah daun yang basah,me-
Nyiram kuburan dengan air,mendoakan agar si mayat mempunyai keteguhan dalam menja-
Wab pertanyaan kubur.( Rasyid,2010:183-186)
a.Persiapan:
1).Menggali liang lahat dengan panjang dan lebar melebihi ukuran si mayat dan kedal-
man setinggi orang berdiri samabai tangan dijulurkan keatas ( sak dedeg sak penga-
we/bhs.Jawa) sehingga tidak tercium baunya dan terhindar dari hewan galak.
2).Penutup liang lahat yang kuat dan rapat hingga tidak mudah longsor.
3).Pemberangkatan dengan sebera,tenang,khidmat.
b.Pelaksanaan:
1).Mayat diletakkan di tanah dalam liang lahat ,badan serong/miring dengan kepala
Menghadap qiblat dengan ikatan dilepas,kain kafan dilonggarkan.Ada yang menya-
Pipi pelipis menyentuh tanah.
2).Letakkan gumpalan tanah atau batu untuk mengganjal mayat agar posisinya stabil.
3).Tutuplah dengan diberi rongga secukupnya kemudian ditimbuni tanah yang padat
rapat agar tidak mudah dibuka dan dibuat onggokan/gundukan sebagai pertanda
bahwa di situ ada jasad yang dikuburkan,biasanya kemudian diberi tanda.(Dimhari,
2001:44-45 )

BAB III
PENUTUP
Demikianlah secara garis besar,perawatan jenazah mulai awal kematiannya hingga selesai dikuburkan.Dalam makalah yang sangat ringkas ini kami tidak menampilkan dalil-dalilnya secara eksplisit,namun dapat dirunut dari catatan akhir ( end note ) yang ada.Di masyarakat memang kadang ada beberapa hal yang dilakukan yang mungkin secara langsung tidak ada dalilnya,misalnya landasan untuk memandikan dengan pohon pisang dan dalam jumlah tertentu.
Untuk itu kita perlu bersikap arif bijaksana sembari mencari dasar-dasarnya.,mungkin joga ada landasan filosofis serta mengandung hikmah tertentu,maka jangan serta merta menghakimi.Wallahu a’lam bis-shawab.

DAFTAR PUSTAKA

Dimhari,A.(2001)Tuntutan Merawat Jenazah,Yogyakarta:Iqro’Offset
Hanafi,(1981).Usul Fiqh.Jakarta:Wijaya
Muhith,Abdul,KH,(1987),Al’Ukkazah Ila kaifiyatis-shalah ‘Alal-janazah,Yogyakarta:Pondok Jejeran
Rasyid,Sulaiman,(2010),Fiqh Islam,Bandung:Sinar Baru Algesindo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar